ABOUT APCONEX 2009    |   CONFERENCE    |   EXHIBITION    |   NEWS    |   SPONSORSHIP    |   ARCHIVES    |   CONTACTS
About Apconex
InfoBankNews, 05/10/08
APCONEX 2008
Dari Cash ke Non Cash

Biskom, 05/09/08
Apconex 2008 : Dunia Beralih ke Uang Elektronik

Kedaulatan Rakyat , 05/09/08
DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL; Bankir Perlu Lebih Hati-hati

Kompas, 05/09/08
Waktunya Aplikasikan Pembayaran Elektronik

Madina, 05/09/08
Pembukaan Apconex 2008, SBY Ingatkan Perbankan untuk Hati-Hati Kalkulasi Risiko

Jurnal Nasional, 05/08/08
Perbankan Kembangkan Pembayaran Nontunai
APCONEX 2008 Media Coverages
InfoBankNews, 05/10/08
APCONEX 2008 DARI CASH KE NON CASH
InfoBankNews.com, Transaksi nontunai ini sudah saatnya dikembangkan. Apconex 2008 menjadi ajang bagi bank-bank di kelas menengah untuk saling berbagi pakai. Tb. Rully Ferdian

PEMBAYARAN tunai dalam bentuk fisik uang kini sudah usang. Transaksi menggunakan teknologi sebagai instrumen pembayaran nontunai telah menjadi tren yang tidak bisa dihindari. Beragam inovasi pada alat pembayaran nontunai kini makin efisien, nyaman, aman, dan cepat. Bahkan, transaksi nontunai sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Tak heran jika di beberapa bank besar, yang mengarahkan nasabahnya melakukan transaksi melalui electronic banking, jumlah transaksinya jauh lebih besar ketimbang di kantor cabang. Bank-bank besar itu telah membuahkan hasil dari transaksi nontunai. Mereka memiliki infrastruktur dan jaringan yang luas.

Kecenderungan dari bank-bank besar ini mulai mengepakkan sayap untuk transaksi micro-payment. Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA), misalnya, memiliki alat pembayaran untuk transaksi di SPBU. Bank DKI mengeluarkan JakCard untuk pembayaran tiket bus transjakarta. Bank Niaga menyediakan fasilitas untuk pembayaran menonton di bioskop.

Artinya, transaksi ritel kini jadi bidikan bank. Lambat laun, transaksi tunai ini sudah bergeser ke transaksi nontunai. Pemakaian uang receh mulai diminimalisasi. Ketersediaan infrastruktur untuk pembayaran ritel mulai digalakkan. Tapi, pembayaran nontunai bukan monopoli bank. Berbagai sektor terkait juga diperkenankan melakukan transaksi ritel.

Sektor telekomunikasi, misalnya, kini sudah menyediakan fasilitas pembayaran melalui handphone. Begitu pula dengan sektor transportasi. Di Malaysia, misalnya, pembayaran jalan tol dilakukan melalui sistem elektrik prapaid bersensor. Ini merupakan sebuah alat yang disimpan dalam mobil. Ketika mobil mendekati pintu tol, alat sensor ini akan terbaca langsung oleh peralatan di pintu tol. Pengguna jalan tol harus membeli terlebih dulu alat ini dengan nominal tertentu. Jumlah nominal itu akan berkurang ketika melewati pinto tol sesuai dengan tarif tol.

Banyak manfaat yang bisa dipetik dari transaksi nontunai, kendati masih banyak pula pekerjaan rumah yang perlu dibenahi. Perbankan merupakan sektor yang paling banyak mengeruk keuntungan, terutama bank-bank besar. Tapi, mereka juga mengeluarkan banyak investasi untuk menyediakan fasilitas pembayaran.

Lantas, bagaimana bank-bank di kelas menengah? Dalam banyak hal, bank-bank di kelas ini hanya menjadi pengikut bank-bank besar. Apalagi dalam teknologi perbankan. Itulah sebabnya, berbagi pakai (sharing) penggunaan tenologi informasi (TI) diperlukan bank-bank ini. Begitu pula untuk pembayaran nontunai, berbagi pakai sangat dimungkinkan. Masalahnya, bank-bank besar sangat sulit berbagi pakai.

Ajang Apconex yang digelar Perbanas setiap tahun menjadi wadah bank-bank saling berbagi. Perhelatan akbar Apconex kembali digelar pada medio Mei 2008. Temanya “Toward Cashless Society”.

Menurut Ricardus Eko Indrajit, Ketua Organizing Committee Apconex 2008, ada beberapa alasan mengapa tema itu pantas diangkat. Satu, berkaitan dengan daya saing. Soalnya, dengan less cash society, proses yang terkait dengan sistem keuangan bisa jauh lebih cepat. Artinya, dengan tidak membawa uang tunai, keamanan menjadi lebih bagus dan prosesnya dari satu negara ke negara lain lebih cepat.

Dua, mencetak uang kartal memerlukan biaya sangat mahal. Padahal, jumlah transaksi micro-payment sangat banyak. Tiga, bank tidak hanya sebagai agen untuk menyimpan uang, tapi juga sarana bertransaksi. Volume transaksi perbankan ini tinggi dan jumlahnya juga besar.

Empat, tren global sekarang cenderung mengarah ke less cash society. Misalnya, World Trade Organization (WTO) mengharuskan para anggotanya menuju ke e-commerce. Lima, konvergensi bank dan lembaga keuangan dengan industri lain. ”Jadi, kalau kita lihat, yang mengalir saat ini bukan uang dalam bentuk fisik lagi, tapi informasi mengenai uang itu sendiri,” ujarnya kepada InfoBank di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bagi bank, selain memberikan pelayanan yang baik dan efisien kepada nasabah, shifting transaksi dari tunai ke nontunai dapat memberikan dampak positif. Misalnya, penurunan cash handling cost dan penurunan biaya operasional lain, seperti biaya sumber daya manusia (SDM) serta biaya pendidikan dan operasoinal cabang. Pada era kompetisi ini, bank menjadi tidak punya pilihan kecuali ikut menyediakan layanan yang disediakan kompetitornya. Lihat saja, misalnya, bank-bank berlomba-lomba menyediakan fasilitas automatic teller machine (ATM) yang multi-payment, internet banking, mobile banking, dan phone banking. Dengan beragam fasilitas, biaya penyediaan transaksi nontunai juga akan makin menurun.

Tren menuju less cash society yang dilakukan perbankan saat ini sudah menjadi kecenderungan umum. Kondisi ini didukung jaringan infrastruktur, sistem, dan alat pembayaran elektronis yang merambah bank-bank besar. Bank-bank besar ini pun sudah menggarap transaksi micro-payment. Bank-bank tersebut juga menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi dan switching untuk mengembangkan jaringan merchant dan nasabah pengguna agar dapat mencapai economic of scale yang memadai.

Namun, banyak perusahaan telekomunikasi dan switching memerlukan standardisasi alat pembayaran. Ketiadaan standar bisa menyebabkan alat pembayaran yang digunakan menjadi tidak efisien. Misalnya, standar dalam penggunaan kartu chip. Micro-payment yang mengandalkan chip menawarkan berbagai kemudahan dan kelebihan dibandingkan dengan sistem pembayaran lain. Transaksi dapat dilakukan secara cepat, efisien, dan aman, yaitu dengan memasukan kartu pada reader (contact) atau hanya didekatkan pada reader (contactless). Pengisian kembali nilai kartu relatif mudah dilakukan di outlet, ATM, bank penerbit, dan merchant.

Saat ini, Bank Indonesia (BI) juga sedang memfasilitasi penetapan standar pada kartu debit dan ATM terkait kewajiban bank mengunakan teknologi chip pada kartu debit dan ATM. Menurut Dyah Nastiti, Direktur Akuntansi dan Sistem Pembayaran BI, dalam penggunaaan teknologi chip, perlu ditetapkan standar teknis, yang meliputi, antara lain, platform, spesifikasi teknis dan protokol, key management, serta fungsi menu atau feature. Penetapan standar teknis ini tidak termasuk penetapan teknologi chip atau jenis chip dan atau teknologi alat baca kartu yang digunakan, sehingga bank bebas menggunakan kartu dan ATM/EDC yang ditawarkan berbagai vendor.

Berkaitan dengan ketentuan BI, Dyah memaparkan bahwa BI berencana mengeluarkan paket ketentuan uang elektronik (e-money), yang merupakan penyempurnaan dari paket ketentuan APMK yang sudah dikeluarkan beberapa tahun lalu. Hal ini menjadi prioritas karena kebutuhan terhadap pengaturan e-money sudah sangat tinggi. “Saat ini sangat banyak pihak yang berniat menjadi penerbit e-money,” ujarnya kepada InfoBank secara tertulis.

Menurut Dyah, ada beberapa faktor yang meyakinkan bahwa less cash society sudah siap diberlakukan. Satu, masyarakat sebenarnya sudah menggunakan alat pembayaran nontunai asalkan infrastrukturnya tersedia. Hasil survei di berbagai daerah pada 2006 menunjukkan bahwa 71% nasabah bank telah mengunakan instrumen pembayaran nontunai. Khusus e-money, survei menunjukkan bahwa 64,5% masyarakat sudah menginginkannya untuk micro-payment dan 73% pengusaha juga bersedia menerima pembayaran dengan e-money.

Dua, kalangan perbankan telah menyediakan berbagai channel pembayaran nontunai demi kemudahan nasabah. Tiga, makin banyak institusi nonbank tertarik mengembangkan e-money dalam rangka menyediakan instrumen micro-payment. Misalnya, industri telekomunikasi, transportasi, dan ritel.

Mobile Operator
Sebagai Alat Pembayaran

SEKTOR telekomunikasi termasuk sudah siap menerapkan less cash society. Dengan jaringan dan insrastruktur yang luas, sektor ini turut pula memudahkan pelanggannya dalam bertransaksi. Pembelian isi ulang pulsa, misalnya, kini sudah bisa dilakukan melalui handphone. Apalagi, sektor ini juga sudah menjalin kerja sama dengan industri perbankan.

PT Exelcomindo Pratama (XL), misalnya, tidak hanya menyediakan infrastruktur yang dapat dimanfaatkan perbankan, tapi juga langsung oleh pelanggannya. Dalam hal ini, XL memiliki Business Solutions yang tidak hanya menyediakan infrastuktur mobile atau wireless, tapi juga banyak menyentuh kepada core banking, termasuk komunikasi data dalam pengembangan less cash society.

Menurut Budi Harjono, General Manager of Marketing and Product Development, Corporate Solutions PT Exelcomindo Pratama, mobile operator juga bisa dijadikan sebagai alat pembayaran. Misalnya, jika berbelanja di merchant tentu memiliki kartu dan ada fasilitas penyedia di Back-End nya. ”Back-End ini yang terhubung dengan Leased Line,” ujarnya kepada InfoBank belum lama ini di Jakarta.

Namun, lanjut Budi, yang lebih penting dalam menerapkan less cash society ini adalah kesiapan dari regulasi. Misalnya, bagaimana jika mobile operator juga bisa dijadikan sebagai alat pembayaran. Meski dalam implementasinya less cash society sudah diterapkan, namun hal itu masih diperlukan pembahasan oleh berbagai pihak. Banyak manfaat yang bisa diperoleh jika hal ini bisa dilakukan. Nasabah, misalnya, bisa melakukan transaksi baik melalui SMS, RFID maupun SSID. ”Saat ini, yang dibutuhkan adalah menghubungkan core banking dari mobile operator ke bank atau merchant yang ada,” jelasnya.

Beragam transaksi pun bisa dilakukan nasabah melalui fasilitas ini. Namun, dalam bertransaksi ini menyangkut kedua belah pihak, seperti bank dan mobile operator. Soalnya, hal ini berkaitan dengan masalah risiko, seperti menyangkut integritas dana dan security.

Budi mencontohkan, less cash society sebenarnya sudah dilakukan pelanggan operator telekomunikasi dengan cara membeli pulsa, membeli ringtone, dan content. ”Idealnya konsumen bisa melakukan transaksi di multibank. Tapi, kita mulai dari yang nilainya kecil, karena transaksinya relatif banyak,” jelasnya seraya mengatakan, dari sisi teknologi dan kesiapan masyarakat memang sudah siap menuju less cash society, meski menunya tidak tersedia. Karena itu, regulasi yang mengatur tentang hal ini sudah harus dipersipkan terlebih dahulu.
Copyrights © 2005 - 2009. APCONEX. All Rights Reserved.